Ya hanya kerana si lelaki ahli maksiat tersebut punya rasa rendah diri bilamana bertembung dengan ahli ibadah tersebut. Rasa tidak layak bilamana dirinya yang hina bertembung dengan seorang abid yang mulia. Diriwayatkanoleh Al Baghawi di dalam kitab Syarhus Sunnah (1/216) | Berkata Sufyan bin Uyainah rahimahullahu ta'ala: "Barangsiapa yang rusak dari kalangan ulama kita maka pada dirinya terdapat kemiripan dengan ulama Yahudi dan barangsiapa yang rusak dari kalangan ahli ibadah kita maka pada dirinya terdapat kemiripan dengan ahli ibadah Nasrani." Amalansoleh mukmin di bulan Zulhijjah. MANUSIA mempunyai instinct (Naluri) untuk bersaing, Ini adalah satu perasaan semula jadi yang baik, yang bagus dan hebat. Naluri inilah menjadikan dunia lebih indah. Manusia bergerak dan hidup untuk melengkapkan kehendak dan keperluan masing-masing. Rasa persaingan inilah akan menjadikan manusia bergerak Hadirinkaum Muslimin jamaah shalat Jum'at yang mulia. Selain berpuasa sebagai amalan utama kita di bulan Ramadhan, bulan ini juga dipenuhi gemilang keberkahan amalan-amalan lainnya. Pada kseempatan khutbah yang singkat ini, selaku khatib, saya akan membahas empat amalan utama agar kita mampu mengoptimalkan bulan Ramadhan sebaik-baiknya. Beratnyalebih ringan daripada kubah cor. Dikarenakan beratnya lebih ringan maka pondasi kubah dapat dihemat. Selain itu disebabkan lebih ringan maka gaya tarik bumi sudah pasti lebih kecil jadi kemungkinan rusak juga lebih sedikit. Selain itu, kubah masjid tembaga tentu lebih terhindar dari kebocoran dibandingkan dengan kubah cor. Allahta’ala berfirman kepada lelaki ahli ibadah, ‘Apakah kamu lebih mengetahui daripada Aku? Ataukah kamu dapat merubah apa yang telah berada dalam kekuasaan tanganKu.’ Kemudian kepada ahli maksiat Allah berfirman, ‘Masuklah kamu ke dalam surga berkat rahmat-Ku.’ Sementara kepada ahli ibadah dikatakan, ‘Masukkan orang ini ke neraka Ayokita akan bahas Insyaallah tentang dampak-dampak buruk maksiat di Point B di halaman 127 dari buku ini kata Ibnu qoyyim rohimahulloh maksiat memiliki berbagai dampak yang buruk tercela serta membahayakan hati dan badan Hai ini penyakit-penyakit gangguan fisik ya gangguan kejiwaan di dunia ini maupun di akhir Hai di dunia sudah ada efeknya kalau tidak IniPenjelasan Kiai Hasyim Muzadi. “Melakukan maksiat atau dosa yang menjadikan merasa hina, dan merasa faqir (butuh pertolongan dan pengampunan Allah) lebih baik daripada taat beribadah yang menyebabkan merasa mulia dan merasa sombong dengan ketaatannya.” (al Hikam, hikmah : 93) “maksudnya begini” kalimat penenang dari sosok Abah SyaikhIbnu ‘Atha’illah As-Sakandari mengemukan dalam karyanya kitab Al-Hikam terkait pelaku maksiat yang meyesali perbuatan nya, dan ia butuh pada ampunan Allah.. معصية أورثت زلا وافتقارا خير من طاعة أورثت عزا واستكبارا. Artinya: “Sebuah maksiat yang berbuah kerendahan diri dan kefakiran (di hadapan Allah) lebih baik daripada amal ibadah Umarr.a. adalah seorang yang waro', ia sangat teliti dalam mengamalkan Islam. Umar r.a. mempelajari surah Al-Baqoroh selama 10 tahun, ia kemudian melapor kepada Rasulullah SAW, "wahai Rasulullah SAW apakah kehidupanku telah mencerminkan surah Al-Baqoroh, apabila belum maka aku tidak akan melanjutkan ke surah berikutnya". vW7M. Semoga kisah dibawah ini bisa membuka cakrawala hikmah dalam hati kita yang selama ini terkunci. Alkisah, ada seorang lelaki dari kaum Bani Israil yang dijuluki Khali’, orang yang gemar berbuat maksiat besar. Suatu ketika ia bertemu dengan seorang abid dari kaum Bani Israil, orang yang ahli berbuat ketaatan dan di atas kepalanya terdapat payung mika. Kemudian Khali’ bergumam, “Aku adalah pendosa yang gemar berbuat maksiat, sedangkan dia adalah abid-nya kaum Bani Israil, lebih baik aku bersanding duduk dengannya, semoga Allah memberi rahmat kepadaku.” Lalu si Khali’ tadi duduk di dekat si abid. Lantas si abid pun bergumam, “aku adalah seorang abid yang alim, sedangkan dia adalah khali’ yang gemar bermaksiat, layakkah aku duduk berdampingan dengannya?” Tiba-tiba saja si abid menghujat dan menendang si khali’ hingga terjatuh dari tempat duduknya. Lalu Allah memberikan wahyu kepada Nabi Bani Israil dengan firmannya, “Perintahkan dua orang ini yakni abid dan khali’ untuk sama-sama memperbanyak amal, Aku benar-benar telah mengampuni dosa-dosa khali’, dan menghapus semua amal ibadah abid.” Maka, berpindahlah payung mika yang dikenakan abid tersebut kepada khali’. Kisah itu sejatinya menjadi cambuk bagi kita. Seringkali kita merasa bangga dengan ibadah dan amal saleh yang telah dikerjakan. Namun itu menjadi sia-sia karena dengan kebanggaan itu lantas menghujat dan menghakimi orang lain. Syekh Ibnu Athaillah dalam Kitab al-Hikam menegaskan bahwa, “Maksiat yang melahirkan rasa hina pada dirimu hingga engkau menjadi butuh kepada Allah, itu lebih baik daripada taat yang menimbulkan perasaan mulia dan sombong atau membanggakan dirimu.” Dengan kata lain, hina dan butuh kepada Allah keduanya adalah sifat orang yang menghamba. Adapun mulia dan agung adalah sifat Tuhan, sehingga tidak ada kebaikan bagi seorang hamba yang taat tapi menimbulkan perasaan mulia dan agung, sebab keduanya adalah sifat Tuhan. Tawadhu-nya orang yang berbuat maksiat dan perasaan hina dan takut kepada Allah, itu lebih utama daripada takabbur-nya orang alim atau orang yang abid. Ibnu Athaillah membesarkan hati orang yang telah berbuat dosa agar tidak putus asa terhadap ampunan Allah. Bahkan orang yang berdosa namun bertobat dengan penuh rasa hina dina dihadapan Allah itu dinilai lebih baik, dibanding orang yang ahli ibadah yang merasa paling hebat, suci, mulia dan sombong dengan ibadahnya. Rasulullah bersabda, “Jikalau kalian tak pernah berbuat dosa, niscaya yang paling saya takutkan pada kalian adalah yang lebih dahsyat lagi, yaitu ujub kagum pada diri sendiri.” HR Imam Ahmad Sifat merasa hina dina adalah wujud kehambaan kita. Manusia akan sulit mengakui kehambaannya manakala ia merasa lebih mulia, sombong, ujub, hebat dibanding yang lainnya. Kita berlindung pada Allah dari segala bentuk kesombongan dan merasa lebih baik dari yang lain.. Wal iyaadzu billah.. ALKISAH, ada seorang lelaki dari kaum Bani Israil yang dijuluki Khali’, orang yang gemar berbuat maksiat besar. Suatu ketika ia bertemu dengan seorang abid dari kaum Bani Israil, orang yang ahli berbuat ketaatan dan di atas kepalanya terdapat payung mika. BACA JUGA Suami yang Beribadah kepada Allah Sepanjang Malam Kemudian Khali’ bergumam, “Aku adalah pendosa yang gemar berbuat maksiat, sedangkan dia adalah abid-nya kaum Bani Israil, lebih baik aku bersanding duduk dengan ny, semoga Allah memberi rahmat kepadaku.” Lalu si Khali’ tadi duduk di dekat si abid. Lantas si abid pun bergumam, “aku adalah seorang abid yang alim, sedangkan dia adalah khali’ yang gemar bermaksiat, layakkah aku duduk berdampingan dengannya?” Tiba-tiba saja si abid menghujat dan menendang si Khali’ hingga terjatuh dari tempat duduknya. BACA JUGA Mengirim Gambar Porno dari Dalam Kubur Lalu Allah memberikan wahyu kepada Nabi Bani Israil dengan firmannya, “Perintahkan dua orang ini yakni abid dan khali’ untuk sama-sama memperbanyak amal, Aku benar-benar telah mengampuni dosa-dosa khali’, dan menghapus semua amal ibadah abid.” Maka, berpindahlah payung mika yang dikenakan abid tersebut kepada khali’. [] SUMBER KABARMEKKAH ALKISAH, ada seorang lelaki dari kaum Bani Israil yang dijuluki Khali’, orang yang gemar berbuat maksiat ketika ia bertemu dengan seorang abid dari kaum Bani Israil, orang yang ahli berbuat ketaatan dan di atas kepalanya terdapat payung Khali’ bergumam, “Aku adalah pendosa yang gemar berbuat maksiat, sedangkan dia adalah abid-nya kaum Bani Israil, lebih baik aku bersanding duduk dengan ny, semoga Allah memberi rahmat kepadaku.”Lalu si Khali’ tadi duduk di dekat si si abid pun bergumam, “aku adalah seorang abid yang alim, sedangkan dia adalah khali’ yang gemar bermaksiat, layakkah aku duduk berdampingan dengannya?”Tiba-tiba saja si abid menghujat dan menendang si Khali’ hingga terjatuh dari tempat Allah memberikan wahyu kepada Nabi Bani Israil dengan firmannya, “Perintahkan dua orang ini yakni abid dan khali’ untuk sama-sama memperbanyak amal, Aku benar-benar telah mengampuni dosa-dosa khali’, dan menghapus semua amal ibadah abid.”Maka, berpindahlah payung mika yang dikenakan abid tersebut kepada khali’. []SUMBER KABARMEKKAH